Mengapa Tuhan Tidak Menghancurkan Dunia Lagi?
Belajar dari Kejadian 9 tentang Dosa, Kesabaran Allah, dan Harapan Manusia
Pernahkah kita bertanya dalam hati:
Jika dunia ini semakin rusak, mengapa Tuhan tidak menghukumnya saja?
Setiap hari kita melihat berita tentang kekerasan, ketidakadilan, kebohongan, bahkan kerusakan moral yang semakin sulit dikenali. Tidak selalu tampak kasar seperti dulu, tetapi justru sering tersembunyi di balik kepintaran manusia, sistem, dan cara berpikir modern. Kita hidup di zaman di mana dosa tidak selalu terlihat jelas, tetapi tetap bekerja diam-diam di dalam hati manusia.
Pertanyaan ini sebenarnya bukan pertanyaan baru. Alkitab sudah mencatat bahwa dunia pernah berada dalam kondisi yang sangat rusak—bahkan jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan hari ini. Dan pada saat itu, Tuhan benar-benar bertindak.
Untuk memahami kondisi dunia sekarang, kita perlu melihat kembali sebuah peristiwa besar dalam Alkitab, yaitu kisah air bah dan perjanjian Tuhan dengan Nuh dalam Kitab Kejadian pasal 6 sampai 9.
Dunia yang Pernah Dihancurkan
Dalam Kejadian pasal 6, digambarkan bahwa manusia hidup dalam kejahatan yang begitu besar. Bukan hanya tindakan jahat yang dilakukan, tetapi juga hati manusia yang terus-menerus cenderung kepada kejahatan. Kekerasan memenuhi bumi. Tidak ada lagi rasa hormat terhadap kehidupan. Nilai manusia sebagai ciptaan Tuhan hampir hilang.
Situasi ini tidak berbeda dengan apa yang kita lihat hari ini hanya bentuknya saja yang berubah. Tuhan melihat semuanya. Ia tidak buta terhadap dosa. Ia tidak mengabaikan kejahatan. Dan pada saat itu, Tuhan mengambil keputusan yang sangat serius: Ia mendatangkan air bah untuk menghakimi dunia.
Namun, di tengah dunia yang rusak itu, ada satu orang yang berbeda. Nuh.
Nuh hidup benar di hadapan Tuhan. Ia berjalan bersama Tuhan ketika dunia berjalan menjauh dari-Nya. Karena itulah, Tuhan menyelamatkan Nuh dan keluarganya melalui bahtera.
Kisah ini menunjukkan satu hal penting:
di tengah dunia yang rusak, Tuhan tetap melihat dan menghargai kehidupan yang benar.
Awal yang Baru: Dunia Setelah Air Bah
Setelah air bah surut, Nuh dan keluarganya keluar dari bahtera. Dunia seperti “dimulai ulang”. Ini adalah titik awal yang baru bagi umat manusia.
Di sinilah kita masuk ke bagian penting dalam Kitab Kejadian pasal 9.
Tuhan berbicara kepada Nuh dan memberikan beberapa hal yang sangat penting: Perintah untuk beranak cucu dan memenuhi bumi, Penegasan bahwa hidup manusia itu berharga.
Perjanjian bahwa Tuhan tidak akan menghancurkan bumi lagi dengan air bah
Perintah untuk “beranakcucu dan bertambah banyak” bahkan diulang beberapa kali. Ini bukan kebetulan. Ini adalah penegasan bahwa meskipun manusia pernah jatuh dalam dosa, Tuhan tidak membatalkan rencana-Nya atas manusia.
Tuhan masih menghendaki kehidupan.
Tuhan masih menghendaki pertumbuhan.
Tuhan masih memberi kesempatan.
Nilai Kehidupan yang Ditegaskan Kembali
Salah satu bagian paling kuat dalam Kejadian 9 adalah ketika Tuhan berbicara tentang darah dan nyawa manusia.
Tuhan berkata bahwa siapa yang menumpahkan darah manusia harus mempertanggungjawabkannya, karena manusia diciptakan menurut gambar Tuhan.
Ini sangat penting. Artinya, setiap manusia memiliki nilai yang sangat tinggi bukan karena status, kepintaran, atau kekayaan, tetapi karena manusia adalah ciptaan yang mencerminkan Tuhan.
Jika kita tarik ke konteks sekarang, ini menjadi sangat relevan. Banyak orang hari ini: merasa hidupnya tidak berharga
meremehkan orang lain atau bahkan tidak peduli terhadap kehidupan.
Namun melalui Kejadian 9, Tuhan mengingatkan bahwa: hidup manusia itu kudus dan tidak boleh diperlakukan sembarangan.
Perjanjian Tuhan: Dunia Tidak Dihancurkan Lagi.
Setelah itu, Tuhan membuat perjanjian dengan Nuh, keluarganya, dan seluruh ciptaan. Tuhan berjanji bahwa Ia tidak akan lagi memusnahkan bumi dengan air bah.
Sebagai tanda, Tuhan memberikan pelangi. Pelangi bukan sekadar fenomena alam yang indah. Dalam konteks Alkitab, pelangi adalah tanda perjanjian sebuah pengingat bahwa Tuhan setia pada janji-Nya.
Menariknya, perjanjian ini tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh ciptaan: hewan, bumi, dan segala yang hidup. Ini menunjukkan bahwa Tuhan peduli bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada seluruh dunia yang Ia ciptakan.
Lalu Bagaimana dengan Dunia Sekarang?
Di sinilah pertanyaan penting muncul kembali: Jika Tuhan pernah menghancurkan dunia karena dosa, mengapa sekarang tidak? Apakah dunia sekarang lebih baik? Jelas tidak. Apakah dosa sudah hilang? Juga tidak. Bahkan bisa dikatakan, dosa sekarang sering kali lebih sulit dikenali.
Dulu, dosa terlihat dalam bentuk kekerasan yang jelas. Sekarang, dosa bisa hadir dalam: kesombongan yang halus
manipulasi yang pintar, kebohongan yang dibungkus rapi hidup tanpa Tuhan tapi terlihat “baik-baik saja” Dosa tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk.
Tuhan Tidak Diam Ia Sedang Bersabar
Jawabannya bukan karena Tuhan tidak melihat. Tuhan melihat semuanya. Namun, Tuhan tidak langsung menghakimi seperti pada zaman Nuh, karena Ia telah membuat perjanjian. Tuhan sedang menahan penghakiman. Bukan karena dosa tidak penting, tetapi karena Tuhan memberikan waktu.
Ini adalah bentuk kesabaran Tuhan.
Dalam bagian lain Alkitab dijelaskan bahwa Tuhan tidak menghendaki manusia binasa, tetapi memberi kesempatan untuk bertobat.
Artinya, waktu yang kita jalani sekarang bukan waktu tanpa tujuan. Ini adalah waktu anugerah. Kita Hidup di Masa Penantian. Jika kita melihat keseluruhan Alkitab, kita bisa memahami bahwa:
Dunia pernah dihakimi (air bah), dunia dipelihara (perjanjian dengan Nuh). Dunia sekarang berjalan dalam kesabaran Tuhan
Suatu saat, penghakiman terakhir akan datang. Jadi benar, kita hidup di masa penantian. Bukan penantian yang kosong, tetapi penantian yang penuh makna.
Ini adalah masa di mana: dosa masih bekerja, tetapi anugerah Tuhan juga bekerja. Ini adalah masa di mana: manusia masih bisa memilih untuk hidup menjauh dari Tuhan atau berjalan bersama Tuhan.
Dua Realitas yang Berjalan Bersama
Hari ini, kita hidup di antara dua realitas:
1. Dosa masih nyata
Kita tidak bisa menyangkalnya.
Dosa ada di dunia, bahkan di dalam diri manusia.
2. Tuhan masih setia
Ia tidak meninggalkan dunia.
Ia tidak menarik kembali perjanjian-Nya.
Ia tetap memelihara kehidupan.
Inilah ketegangan yang kita rasakan setiap hari. Kita melihat kejahatan, tetapi juga melihat kebaikan. Kita melihat kerusakan, tetapi juga melihat harapan.
Belajar dari Nuh untuk Hari Ini
Di tengah dunia yang rusak, Nuh memilih hidup benar. Ia tidak mengikuti arus. Ia tidak menyesuaikan diri dengan kejahatan di sekitarnya. Ia berjalan bersama Tuhan.
Ini menjadi pelajaran penting bagi kita hari ini. Kita mungkin tidak bisa mengubah dunia secara langsung, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita hidup di dalamnya.
Apakah kita akan: ikut arus dunia atau berjalan bersama Tuhan? Kesempatan yang Tidak Boleh Disia-siakan. Jika Tuhan masih menahan penghakiman, itu berarti satu hal:
Masih ada kesempatan.
Kesempatan untuk: berubah, bertobat kembali kepada Tuhan, hidup dengan tujuan yang benar. Namun kesempatan ini tidak berlangsung selamanya. Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa akan ada saat di mana Tuhan bertindak kembali. Karena itu, waktu sekarang sangat berharga.
Dari Kejadian 9, kita belajar bahwa:Tuhan adalah Allah yang adil, Tuhan adalah Allah yang setia, Tuhan adalah Allah yang memberi kesempatan. Dan kita diundang untuk merespons. Bukan dengan ketakutan semata, tetapi dengan kesadaran bahwa hidup ini berharga.
Dunia belum dihancurkan bukan karena Tuhan tidak peduli terhadap dosa. Justru sebaliknya. Dunia masih ada karena Tuhan setia pada perjanjian-Nya dan memberi waktu bagi manusia. Namun waktu itu bukan untuk disia-siakan. Ini adalah waktu untuk kembali. Ini adalah waktu untuk hidup benar. Ini adalah waktu untuk berjalan bersama Tuhan, seperti Nuh.
Karena pada akhirnya, setiap kehidupan akan berhadapan dengan Tuhan.
Dan pertanyaannya bukan lagi: “Apakah Tuhan akan bertindak?” Tetapi:
“Bagaimana kita hidup selama waktu yang Tuhan berikan?”
0 Komentar