Ikut Arus Dunia atau Berani Beda?Ketika Hati Manusia Menjauh, Kasih Karunia Tetap Mencari(Refleksi Kejadian 6:1–8)

Dunia pada zaman Nuh tidak hancur dalam satu malam. Kerusakan itu tidak datang secara tiba-tiba. Semuanya dimulai dari sesuatu yang tampaknya baik pertumbuhan. Alkitab mencatat bahwa “ketika manusia mulai bertambah banyak di muka bumi.” Dalam bahasa Ibrani digunakan ungkapan ha’adam larov, yang menggambarkan manusia berkembang dengan sangat pesat. Ini sebenarnya merupakan penggenapan berkat Tuhan sejak awal penciptaan: “beranak cuculah dan penuhilah bumi.”

Namun di sinilah ironi besar muncul. Apa yang seharusnya menjadi berkat perlahan berubah menjadi sarana penyebaran dosa. Semakin banyak manusia, semakin luas pula kerusakan hati manusia. 

Teks kemudian membawa kita masuk lebih dalam ke akar persoalan. Alkitab berkata, “anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik, lalu mereka mengambil siapa saja yang disukai mereka.” Dalam bahasa Ibrani terdapat pola kata yang sangat kuat: vayir’u… ki tov… vayikchu — melihat… bahwa itu baik… lalu mengambil.

Ini bukan pola baru. Pola yang sama sudah muncul di taman Eden. Hawa melihat buah itu “baik” (tov), lalu ia mengambilnya (laqach). Artinya, dosa dalam Kejadian 6 bukan dosa yang baru muncul, tetapi dosa lama yang kini menjadi gaya hidup manusia. Manusia tidak lagi bertanya, “Apakah ini kehendak Tuhan?” Mereka hanya bertanya, “Apakah ini terlihat baik di mataku?”

Akibatnya, relasi pun kehilangan arah. Pernikahan dan hubungan tidak lagi didasarkan pada kebenaran atau panggilan ilahi, tetapi pada keinginan dan ketertarikan semata. Mereka “mengambil siapa saja yang mereka sukai.” Tidak ada batas moral, tidak ada pertimbangan rohani, dan tidak ada arah yang dipimpin Tuhan. 

Ketika hati manusia menjauh dari Tuhan, bahkan hal yang paling suci—relasi/hubungan—dapat kehilangan maknanya. Di tengah kondisi itu, Tuhan menyatakan sesuatu yang sangat serius:
“Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia.”

Dalam bahasa Ibrani kalimat ini berbunyi lo-yadon ruchi ba’adam le’olam. Kata yadon bukan hanya berarti “tinggal,” tetapi juga “bergumul” atau “berjuang.” Ini menggambarkan bahwa selama ini Roh Tuhan aktif bekerja di dalam manusia menahan kejahatan, menegur hati, dan memanggil manusia kembali kepada-Nya.

Namun ada titik ketika manusia terus-menerus menolak suara Tuhan. Bukan karena Tuhan lemah, tetapi karena manusia memilih mengeraskan hati. Pada akhirnya, Tuhan dapat membiarkan manusia berjalan dalam konsekuensi pilihannya sendiri.

Alkitab kemudian menyebut manusia sebagai basar—“daging.” Istilah ini bukan sekadar menunjuk tubuh fisik, tetapi menggambarkan manusia yang fana, rapuh, dan mudah dikuasai dosa. Tanpa pimpinan Roh Tuhan, manusia menjadi sangat rentan terhadap keinginannya sendiri.

Diagnosis rohani Tuhan kemudian dinyatakan dengan sangat tajam: “Segala kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Dalam bahasa Ibrani tertulis: kol yetser machshevot libo raq ra kol-hayom Setiap kata membawa bobot yang dalam:
yetser — kecenderungan atau bentukan hati terdalam
machshevot — pikiran dan rancangan batin
raq ra — hanya jahat
kol-hayom — sepanjang waktu

Masalahnya bukan lagi sekadar tindakan dosa. Dosa telah menjadi struktur hati manusia. Ini bukan lagi soal manusia kadang jatuh dalam kesalahan, tetapi hati manusia terus condong ke arah yang salah.

Di titik inilah Alkitab mencatat sesuatu yang sangat menyentuh: Tuhan menyesal telah menciptakan manusia. Kata Ibrani yang digunakan adalah nacham, yang tidak sekadar berarti “menyesal,” tetapi juga mengandung makna berduka, terluka, dan penuh kesedihan. Tuhan digambarkan berdukacita sampai ke hati-Nya. Gambaran ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan Pribadi yang jauh dan dingin. Ia adalah Allah yang hatinya terlibat dalam kehidupan ciptaan-Nya.

Namun kisah ini tidak berakhir dalam kesedihan. Di tengah dunia yang rusak total, muncul satu kalimat yang membawa harapan besar: “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan.”

Dalam bahasa Ibrani: Noach matza chen
matza berarti menemukan atau memperoleh chen berarti kasih karunia—anugerah yang tidak layak diterima
Inilah titik terang di tengah kegelapan dunia. Nuh tidak diperkenalkan sebagai manusia paling sempurna. Ia hanya disebut menerima kasih karunia. Artinya, harapan manusia tidak pernah bertumpu pada kebaikan manusia, tetapi pada inisiatif Tuhan yang memberi anugerah. Di saat semua orang mengikuti arus dunia, Nuh memilih berjalan bersama Tuhan.

Kisah ini berbicara sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini. Kita hidup di dunia yang penuh pengaruh—melalui layar, relasi, budaya, dan berbagai standar hidup yang terus membentuk cara kita berpikir. Tanpa sadar, kita dapat mulai hidup berdasarkan apa yang kita lihat, bukan berdasarkan apa yang Tuhan katakan. Kita bisa ikut arus tanpa pernah menyadarinya.

Namun kisah Nuh mengingatkan bahwa selalu ada pilihan lain. Kita tidak harus hidup seperti kebanyakan orang. Kita tidak harus mengikuti arah dunia. Tuhan selalu mencari orang yang mau berjalan bersama-Nya, bahkan ketika mayoritas memilih jalan yang berbeda. Menjadi berbeda bukanlah soal menjadi lebih baik dari orang lain. Menjadi berbeda adalah respons terhadap kasih karunia Tuhan.

Karena pada akhirnya, kekuatan untuk hidup benar tidak berasal dari usaha manusia, tetapi dari anugerah Tuhan yang memanggil, menopang, dan memimpin hidup kita.

Maka pertanyaan dari Kejadian 6:1–8 bukan hanya tentang dunia pada zaman Nuh, tetapi tentang kita hari ini:
Apakah hidup kita sedang dibentuk oleh apa yang kita lihat…
atau oleh kasih karunia yang kita terima?

Di tengah dunia yang terus menjauh, kasih karunia Tuhan masih mencari hati yang mau berjalan bersama-Nya. Dan mungkin hari ini Tuhan sedang mencari seseorang yang memilih untuk berani hidup berbeda.

0 Komentar

Type above and press Enter to search.