Air Mata Sang Gembala Refleksi Pergumulan Seorang Pelayan Tuhan


Air Mata Sang Gembala adalah sebuah karya reflektif yang menyentuh sisi terdalam kehidupan seorang pelayan Tuhan. Ditulis oleh Paran Sakiu dan Samuel, buku ini sekadar menghadirkan kisah pelayanan gerejawi, membuka ruang kejujuran tentang pergumulan batin seorang gembala yang kerap tersembunyi di balik mimbar dan senyum pastoral.

Melalui narasi yang hangat dan emosional, pembaca diajak menyelami perjalanan seorang pendeta yang berdiri teguh dalam panggilan suci, namun tetap manusia biasa yang rapuh. Di balik khotbah yang menggugah iman, tersimpan air mata, luka batin, kekecewaan, bahkan keraguan akan panggilan itu sendiri. Buku ini dengan berani menyingkap realitas bahwa menjadi hamba Tuhan adalah jalan yang steril dari rasa sakit, melainkan sebuah perjalanan iman yang penuh badai.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kejujuran dan empatinya. Penulis menempatkan sosok gembala sebagai figur ideal tanpa cela, melainkan sebagai manusia yang terus bergumul antara tuntutan kesempurnaan dan kenyataan hidup. Ada sukacita mendalam saat melihat jemaat bertumbuh dan menemukan terang, ada pula kepedihan ketika pengkhianatan justru datang dari orang-orang terdekat. Semua disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun kuat, membuat pembaca mudah terhubung secara emosional.

Latar belakang kedua penulis sebagai pegiat literasi, rohaniawan, pendidik, dan pemimpin gereja memberi bobot reflektif yang mendalam pada isi buku ini. Sentuhan editorial dari Masri Sareb Putra serta desain dan tata letak oleh Matius Mardani turut mendukung kenyamanan membaca, menjadikan buku setebal 180 halaman ini terasa padat makna namun tetap renyah.

Air Mata Sang Gembala relevan bagi para pendeta atau pelayan gereja, bagi jemaat dan pembaca umum yang ingin memahami sisi kemanusiaan seorang gembala. Buku ini mengajak kita belajar berempati, menghargai proses, dan menyadari bahwa iman sering kali ditempa justru melalui air mata. Sebuah bacaan reflektif yang meneguhkan, menguatkan, dan mengingatkan bahwa kesetiaan dalam panggilan kerap lahir dari pergumulan yang sunyi.


0 Komentar

Type above and press Enter to search.