Ketika Kebenaran Diuji

Ada satu kecenderungan yang sering dimiliki banyak orang percaya: kita merasa bahwa pertumbuhan rohani terjadi ketika kita semakin banyak mengetahui kebenaran. Kita berpikir bahwa semakin sering mendengar khotbah, semakin banyak membaca Alkitab, semakin sering mengikuti persekutuan atau seminar rohani, maka otomatis kita sedang bertumbuh menjadi pribadi yang semakin dewasa di hadapan Tuhan. Padahal realitas kehidupan sering menunjukkan sesuatu yang berbeda. Pengetahuan tidak selalu melahirkan perubahan. Seseorang dapat mengetahui begitu banyak hal tentang Tuhan, memahami banyak prinsip firman, bahkan mampu menjelaskan ajaran dengan baik, tetapi hidupnya belum tentu berubah.

Sesungguhnya manusia tidak bertumbuh hanya karena mengetahui kebenaran. Manusia bertumbuh ketika kehidupan memaksanya membuktikan apakah kebenaran itu sungguh hidup dalam tindakannya.

Sering kali kita begitu mudah berbicara tentang kesabaran ketika hidup sedang baik-baik saja. Kita bisa dengan mudah berkata bahwa sebagai orang percaya kita harus tetap tenang, harus belajar mengampuni, harus menghormati orang lain, harus tetap setia kepada Tuhan dalam segala keadaan. Namun semua prinsip itu baru benar-benar diuji ketika kehidupan membawa kita masuk ke situasi yang tidak nyaman. Kesabaran baru menjadi nyata ketika kita sedang menghadapi orang-orang yang sulit. Kejujuran baru terbukti ketika kita berada dalam situasi di mana kebohongan tampak lebih menguntungkan. Iman baru terlihat ketika keadaan hidup tidak berjalan sesuai harapan tetapi kita tetap memilih berjalan dalam ketaatan.

Di situlah sebenarnya kehidupan sedang bekerja sebagai ruang pembentukan.
Sering kali manusia menganggap bahwa setiap persoalan yang datang adalah ujian dari Tuhan atau pencobaan dari luar dirinya. Padahal jika kita mau jujur, banyak situasi sulit dalam hidup justru lahir dari keputusan-keputusan kita sendiri. Ketidaksabaran kita, kurangnya hikmat dalam mengambil keputusan, keterbatasan pengetahuan, atau pilihan-pilihan yang tidak tepat sering kali membawa kita masuk ke dalam persoalan yang kemudian kita sebut sebagai ujian hidup. Namun menariknya, bahkan di tengah kesalahan-kesalahan kita sendiri, Tuhan tidak berhenti bekerja.

Tuhan memakai setiap proses itu untuk mengajar manusia belajar.

Kadang kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah. Kita menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, menyalahkan kondisi ekonomi, bahkan kadang secara tidak sadar menyalahkan Tuhan atas kesulitan yang kita alami. Padahal pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa masalah itu datang, melainkan apa yang sedang Tuhan ajarkan melalui masalah itu.

Kehidupan sesungguhnya adalah tempat di mana pengetahuan diuji.
Semakin seseorang bertumbuh dalam pengenalan akan kebenaran, semakin ia akan diperhadapkan pada realitas yang menuntutnya mengambil keputusan berdasarkan apa yang ia yakini. Firman Tuhan tidak diberikan sekadar supaya kita mengetahui apa yang benar, tetapi supaya kita belajar hidup menurut apa yang benar.
Itulah sebabnya hidup orang percaya tidak pernah lepas dari proses. Tidak ada manusia yang menjadi dewasa tanpa melalui kesalahan. Tidak ada karakter yang kuat tanpa tekanan. Tidak ada hati yang murni tanpa proses panjang pembentukan. Bahkan kegagalan-kegagalan kita pun sering kali menjadi alat yang dipakai Tuhan untuk membuat kita belajar melihat kelemahan diri sendiri.
Semakin kita bertumbuh, tantangan hidup pun akan terus berkembang. Bukan karena Tuhan sedang ingin membuat hidup kita semakin sulit, melainkan karena kapasitas kita sedang diperbesar. Sama seperti seseorang yang sedang dilatih, beban yang ia angkat akan terus bertambah seiring pertumbuhan kekuatannya. Demikian pula kehidupan rohani manusia.
Tujuan akhir dari semua proses ini bukan penderitaan itu sendiri.

Tujuan akhirnya adalah pemurnian hati.
Tuhan sedang membentuk manusia menjadi pribadi yang tidak mudah goyah, pribadi yang belajar hidup benar bukan karena keadaan sedang mendukung, tetapi karena kebenaran itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Karena pada akhirnya, kehidupan akan selalu menguji apa yang kita percayai.
Bukan seberapa banyak firman yang kita dengar.

Bukan seberapa sering kita datang beribadah. Bukan seberapa baik kita memahami ajaran. Tetapi apakah semua kebenaran itu sungguh hidup dalam keputusan-keputusan yang kita ambil setiap hari.

Mungkin inilah alasan mengapa Tuhan mengizinkan manusia berjalan melalui begitu banyak proses.

Bukan untuk menghancurkan. Bukan untuk menjatuhkan. Tetapi untuk membentuk.
Supaya manusia belajar bahwa menjadi dewasa secara rohani bukan soal mengetahui lebih banyak tentang Tuhan, melainkan belajar tetap hidup benar ketika kehidupan memberi alasan untuk menyerah.

Karena sesungguhnya manusia tidak bertumbuh karena mengetahui kebenaran.
Manusia bertumbuh ketika kehidupan memaksa dia membuktikan apakah kebenaran itu sungguh hidup dalam tindakannya.

Dan di sanalah karakter dibentuk, hati dimurnikan, dan manusia perlahan dipersiapkan menjadi pribadi yang sanggup menjalani setiap mandat yang Tuhan percayakan dalam hidupnya.

0 Komentar

Type above and press Enter to search.