Urgensi Injil dan Kristus Yesus Refleksi Teologi Paulus tentang Kebutuhan Dasar Manusia

 

Ilustrasi: dibuat dengan bantuan AI untuk keperluan edukasi dan refleksi teologis.

Salah satu pertanyaan paling tua dan paling universal dalam sejarah manusia adalah pertanyaan tentang kematian: ke mana manusia pergi setelah mati?

Pertanyaan ini melintasi batas agama, budaya, zaman, dan latar sosial. Ia tidak hanya hadir dalam diskusi filsafat atau teologi, tetapi juga dalam kecemasan pribadi manusia yang paling dalam.

Alkitab sendiri mengakui bahwa kesadaran akan kefanaan ini tertanam dalam diri manusia:

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.”

(Pengkhotbah 3:11)

Karena itu tidak mengherankan bila sepanjang sejarah muncul begitu banyak falsafah hidup, sistem kepercayaan, dan pandangan moral. Hampir semuanya bermuara pada satu tujuan: memberi kepastian atau setidaknya harapan tentang kehidupan setelah kematian. Manusia berusaha hidup dengan cara tertentu agar kelak “sampai” di tempat yang benar.

Dalam konteks kegelisahan universal inilah Injil menjadi sangat mendesak—bukan sebagai wacana keagamaan tambahan, melainkan sebagai jawaban Allah atas kebutuhan terdalam manusia.

Ketakutan Akan Kematian dan Pencarian Makna Hidup

Kematian bukan sekadar akhir biologis, melainkan krisis makna. Ia memaksa manusia bertanya:

Apakah hidup ini hanya berhenti di sini? Apakah semua jerih payah, penderitaan, dan pengorbanan manusia berakhir pada ketiadaan?

Alkitab menggambarkan realitas ini dengan jujur:

“Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan.”

(Ayub 14:1)

Banyak pandangan hidup menawarkan jawaban melalui usaha manusia: perbuatan baik, ketaatan moral, pencapaian spiritual, atau pencerahan batin. Namun jawaban-jawaban ini sering kali meninggalkan ketidakpastian: apakah saya sudah cukup? apakah usaha saya memenuhi standar?

Di sinilah teologi Kristen—khususnya sebagaimana dirumuskan oleh Paulus—menawarkan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Kristus sebagai Jawaban, Bukan Sekadar Ajaran Moral

Dalam teologi Paulus, Injil bukan pertama-tama sebuah sistem etika atau filsafat hidup, melainkan kabar tentang tindakan Allah dalam sejarah. Pusat Injil adalah pribadi dan karya Yesus Kristus, khususnya kematian dan kebangkitan-Nya.

Paulus menegaskan inti Injil dengan sangat jelas:

“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita… bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga.”

(1 Korintus 15:3–4)

Bagi Paulus, kebangkitan Kristus bukan simbol rohani atau mitos religius. Kebangkitan adalah jaminan nyata bahwa kehidupan tidak berakhir pada kematian:

“Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga iman kamu.”

(1 Korintus 15:14)

Artinya, Injil tidak hanya menjanjikan kehidupan setelah kematian, tetapi menyatakan bahwa kehidupan itu sudah dinyatakan dan dimenangkan di dalam Kristus.

Injil Bukan Komoditas, Tetapi Kebutuhan Dasar

Karena Injil menjawab pertanyaan paling mendasar tentang hidup dan mati, Injil tidak boleh diperdagangkan. Penginjilan bukan sarana mencari keuntungan ekonomi, kekuasaan sosial, atau popularitas rohani.

Paulus dengan tegas menyatakan sikap ini:

“Sebab kami tidak seperti banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah.”

(2 Korintus 2:17)

Ia bahkan rela melepaskan haknya demi kemurnian Injil:

“Aku tidak mempergunakan satu pun dari hak-hak itu… supaya jangan aku menimbulkan rintangan bagi Injil Kristus.”

(1 Korintus 9:12)

Injil bukan produk rohani bagi konsumen agama, tetapi kebutuhan dasar setiap manusia, sama seperti kebenaran, pengharapan, dan makna hidup.

Injil sebagai Jawaban atas Hidup dan Kehidupan Setelahnya

Jika banyak falsafah hidup bertanya, “apa yang harus saya lakukan supaya selamat setelah mati?”, Injil justru menyatakan:

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu.”

(Efesus 2:8)

Paulus menegaskan bahwa Injil berbicara tentang tindakan Allah, bukan prestasi manusia:

“Kristus Yesus telah mati… bahkan lebih lagi: Ia telah bangkit.”

(Roma 8:34)

Dalam Kristus, manusia tidak lagi hidup dikuasai oleh ketakutan akan kematian:

“Hai maut, di manakah kemenanganmu?”

(1 Korintus 15:55)

Karena itu Injil relevan bagi seluruh hidup manusia—sekarang dan selama-lamanya.

Injil sebagai Undangan Kehidupan

Dalam dunia yang terus memperdebatkan kematian dan kehidupan setelahnya, Injil tidak datang sebagai ancaman atau paksaan, melainkan sebagai undangan:

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”

(Yohanes 11:25)

Bagi Paulus, Injil adalah:

“kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.”

(Roma 1:16)

Dan bagi manusia di segala zaman, Injil tetap menjadi jawaban Allah atas pertanyaan paling mendasar: tentang hidup, kematian, dan kehidupan yang sejati.

0 Komentar

Type above and press Enter to search.